Minggu, 17 September 2017

Labirin yang Penuh Jebakan

Hidup ini, layaknya labirin
Ya...
Berlika-liku, penuh tantangan, susah menemukan jalan keluar, lebih mudahnya kita sebut "Tersesat"
Ya...
Aku hidup dalam labirin,
Aku mencoba menemukan jalan keluar,
Aku mencoba menghirup udara segar..
Tapi,
Tidaklah mudah, kawan.

Aku lurus, menabrak
Aku berbelok ke kanan, bertemu tembok
Aku berbelok ke kiri, bertemu tembok pula
Sampai pada akhirnya,
Aku hanya terdiam,
Menunggu keajaiban yang akan membawaku keluar dari labirin ini..

Berlebihan mungkin jika hal ini aku bilang tersesat,
Ya,
Aku tersesat dalam kemunafikkan cinta.
Berlebihan bukan?
Aku terjebak dalam dinginnya suasana
Aku terjebak dalam larutan kepercayaan
Aku terjebak dalam manisnya janji
Aku terjebak dalam semunya cinta..

Aku munafik jika aku berkata tidak sedih
Aku sedih,
Lebih tepatnya perih
Hal yang selalu ku percaya, lenyap bak ditelan lautan

Salahkah kamu?
Tidak, sayang.
Aku yang bersalah,
Aku yang terlalu mudah memasukkan kata-kata manismu ke dalam otak dan hatiku,
Padahal,
Kau mengucapkannya hanya di bibir,
Tidak lain tidak bukan,
Kau berbohong.

Warna dihidupku kini perlahan-lahan sirna,
Menjadi monokrom lagi..
Hitam, dan putih.

Minggu, 26 Februari 2017

Aku Rindu Madrasah!

"Gedung hijau!""Kerudung kaku!""Baju kurung!""Pesantren 7!""Shalat Dhuha yuk!""Ssssh keputrian!""Hayya 'alas-shalaah""Ciput ciput!""Shalat yukkk!""Ta'lim ayuk, jangan lupa kitabnya!""Sssssh pak maman, masuk kelas!""Amal-amal katanya mau masuk ptn!""OSIS kumpul sepulang sekolah!" "Ngajuin proposal yuk!"

Masih banyak sekali julukan dan cengkramaan kami 
Ya, di madrasah tercinta kami 
Penuh sekali kenangan manis
Pada saat itu rasanya hanya kejadian yang biasa 
Namun, 
Jika kami kenang sekarang rasanya seperti menusuk jiwa 

Lepasnya tawa kami, 
Keluhnya lelah kami, 
Penatnya otak kami, 
Laparnya perut kami, 
Semua teratasi di madrasah kami
Walaupun banyak halang melintang
Namun, 
Begitu indahnya proses kami menuju kepuasan

Guru-guru yang beragam jenisnya 
Menambah keindahan proses kami, 
Lucunya guru kami, 
Galaknya guru kami, 
Sungguh sesak jika dikenang saat ini 

Kawan kami pun beragam, 
Ada yang sungguh menjengkelkan hati, 
Ada yang menyejukkan hati, 
Ada yang terus-menerus membuat emosi, 
Ada yang tulus hati, 
Beragam kawan kami,
Sama seperti sekolah-sekolah lainnya, 
Meskipun kami madrasah

Kami pun sama dengan murid sekolah lainnya
Jika kami telat pasti kami dihukum, 
Masuk gerbang dengan hati yang berdegup kencang 
Berdiri dengan rapi di depan tiang bendera
Menunggu arahan Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, 
Ya!
Abah kami yang kami tunggu, 
Abah Maman. 
Jika telat kami tidak di minta untuk menulis 500 halaman, 
Tidak juga di minta untuk membersihkan kamar kecil, 
Begitu mulia hukuman yang abah maman berikan, 
Kami di minta untuk menghafal Al-Qur'an!
Berayat-ayat, 
Bera'in-a'in, 
Berlembar-lembar, 
Berpuluh-puluh kata, 

Namun, 
Indah bukan kawan?
Indahnya terasa saat ini, 
Saat kami memang sudah lepas dari genggaman madrasah 
Alunan-alunan ayat Al-Qur'an selalu mengingatkan kami, 
Ya! 
Mengingatkan kami akan madrasah kami. 

Kawan, 
Tak akan cukup waktu dan kata untuk menceritakan semua kisah kita
Madrasah yang kita anggap mengekang,
Mengikat, 
Memaksa,
Tentunya akan kita rindukan
Ya!
Inilah saat dimana kita semua merindukan hangatnya madrasah 
Namun, 
Kita hanya bisa mengenang 
Kawan, 
Genggam hangat selalu kenangan kita, 
Sampai memang genggaman itu hilang 
Hilang karena tibanya kematian.. 


PS: 
Abah Maman, lengkapnya adalah Alm. H.Maman Firmansyah,S.Pd.I 
Beliau merupakan guru senior di Madrasah Aliyah Negeri 7 Jakarta. 
Beliau mengajar pelajaran Al-Qur'an Hadist, Tahfiz, dllnya yang berkaitan dengan keagamaan. 
Beliau juga menjabat sebagai Wakil Bidang Kesiswaan di masa saya sekolah di MAN 7 Jakarta. 
Namun, karena kehendak Allah SWT, abah di panggil Allah, dimana abah menderita sakit yang berkepanjangan, dan saat menjelang kelulusan abah dipanggil Yang Maha Kuasa. Tangisan kami, anak anak abah tak bisa terbendung lagi ketika mendengar kabar tersebut. Abah sosok yang sangat dibanggakan oleh anak-anaknya, ya anak-anaknya sangat banyak, siswa-siswi MAN 7 Jakarta. Namun, saya yakin, abah sudah tenang di surga-Nya.. 
Bagi yang membaca tulisan saya ini, saya meminta keikhlasannya untuk membacakan Surah Al Fatihah untuk alm abah kami tercinta, abah maman. 
Abah, ure my second father. We love you, Abah :) 

(X2 MAN 7 Jakarta)

(X-XI-XII IPS 2)

(Pentas Seni "MIXTRAMOART" MAN 7 Jakarta)


(AKREDIGAS 28 MAN 7 Jakarta)

(IPS 2 MAN 7 Jakarta)

(Beberapa guru MAN 7 JAKARTA)

(Panitia pelantikan ekskul bersama abah maman)