Hidup ini, layaknya labirin
Ya...
Berlika-liku, penuh tantangan, susah menemukan jalan keluar, lebih mudahnya kita sebut "Tersesat"
Ya...
Aku hidup dalam labirin,
Aku mencoba menemukan jalan keluar,
Aku mencoba menghirup udara segar..
Tapi,
Tidaklah mudah, kawan.
Aku lurus, menabrak
Aku berbelok ke kanan, bertemu tembok
Aku berbelok ke kiri, bertemu tembok pula
Sampai pada akhirnya,
Aku hanya terdiam,
Menunggu keajaiban yang akan membawaku keluar dari labirin ini..
Berlebihan mungkin jika hal ini aku bilang tersesat,
Ya,
Aku tersesat dalam kemunafikkan cinta.
Berlebihan bukan?
Aku terjebak dalam dinginnya suasana
Aku terjebak dalam larutan kepercayaan
Aku terjebak dalam manisnya janji
Aku terjebak dalam semunya cinta..
Aku munafik jika aku berkata tidak sedih
Aku sedih,
Lebih tepatnya perih
Hal yang selalu ku percaya, lenyap bak ditelan lautan
Salahkah kamu?
Tidak, sayang.
Aku yang bersalah,
Aku yang terlalu mudah memasukkan kata-kata manismu ke dalam otak dan hatiku,
Padahal,
Kau mengucapkannya hanya di bibir,
Tidak lain tidak bukan,
Kau berbohong.
Warna dihidupku kini perlahan-lahan sirna,
Menjadi monokrom lagi..
Hitam, dan putih.




